Ketika Tuhan Saya dan Anda Berbeda

disclaimer: Tulisan ini bukan bermaksud untuk menjatuhkan suatu golongan atau individu-individu tertentu. Silahkan baca dengan pikiran terbuka. 

 

“The mind of a bigot is like the pupil of the eye; the more light you pour upon it, the more it will contract” – Oliver Wendell Holmes, Sr.

 

Kutipan diatas menggugah hati saya untuk mengungkapkan apa yang selama ini terpendam jauh dilubuk hati. Ya, mengungkapkan kebencian yang selama ini dikunci rapat-rapat dengan senyum sinis dan sikap apatis. Kebencian biasanya bermuara pada ketakutan, namun dalam hal ini, kebencian saya berujung pada pemakluman, penerimaan walaupun dalam keadaan hati yang terpaksa.

Bigot. Kata ini merunut balik pada abad ke 16 di Perancis Tengah dan bermakna religious hypocrite alias kemunafikan orang-orang yang beragama. Entah dari mana asal mula kata-kata bigot ini, namun kepercayaan umum beranggapan bahwa kata-kata ini berasal dari bahasa jerman, bei Gott –atau Demi Tuhan. Secara etimologis kata-kata ini kemudian menjadi ejeka yang umum digunakan oleh orang prancis. Kata-kata serupa juga digunakan sebagai umpatan di Swiss dalam konteks menghina orang-orang Kristen Protestant Swiss.

Mungkin kata-kata inilah yang cukup tepat untuk menggambarkan perasaan saya yang teriris ketika melihat agama dijadikan semacam aksesoris sematan belaka pada diri manusia, khususnya ketika mereka mulai bersikap anarkis atas nama agamanya dan atas nama Tuhannya. Ini isu yang sangat sensitif memang, jadi apabila anda, para pembaca yang budiman, sudah merasa tersinggung sebelum saya melanjutkan tulisan ini lebih lanjut, maka saya sarankan anda segera berhenti membaca. Tulisan ini murni opini pribadi seseorang akan kecampur-adukan agama dengan kepentingan pribadi maupun golongan di negeri kita tercinta ini.

Anda tentu saja ingat dengan kasus pembantaian berdarah di Poso, ambon, bertahun-tahun silam dimana terjadi konflik horizontal antara kelompok penganut agama Nasrani dan Islam, atau yang baru-baru terjadi ini; konflik GKI Yasmin, sebuah Gereja yang keabsahan pendiriannya terus menjadi kontroversi. Jujur hati saya bagaikan tertusuk melihat sekelompok massa membawa panji-panji agama dengan nama Tuhan yang suci terukir didalamnya, sambil meneriakkan kalimat puji-puji bagi Tuhan disambi dengan melakukan tindakan anarkis. Entah melempar batu, entah mengamuk, entah berteriak-teriak.

Bukankah seharusnya kalimat pengagung-agungan Tuhan itu diucapkan dengan lembut dari hati terdalam sambil mensyukuri segala karunia Tuhan yang telah Ia berikan kepadamu, wahai saudaraku?

Bukankah ada makna yang lebih dari  jubah yang engkau pakai itu, wahai saudaraku? Bukankah lebih indah, elok dan pantas apabila jubah tersebut engkau pakai untuk beribadah, untuk menyerahkan diri seutuhnya kepada Tuhanmu dalam doa paling khusyuk? Alangkah sayangnya engkau pakai jubah tersebut sebagai tameng untuk menunjukkan identitasmu kepada setiap khalayak yang melihat? Bukankah itu yang disebut dengan Riya’?

Ada cara yang lebih baik untuk mengatasi permasalahan antar-agama daripada dengan melakukan labrak-melabrak, teror-meneror, serang-menyerang atau demo anarkis. Bukankah masih ada jalan damai seperti musyawarah dan mufakat? Masih ada dialog dan mediasi yang walau membutuhkan jalan yang panjang hingga kata sepakat, dapat memberikan kepuasan bersama, ketimbang melukai salah satu pihak hingga menggoreskan dendam mendalam di batin mereka-mereka yang kalah kuat.

Anda boleh sebut saya liberal, tapi bagi saya tak ada agama yang lebih tinggi dari satu sama lain dalam strata sosial masyarakat. Kita memuja Tuhan dengan cara yang mungkin sangat berbeda. Kita memanggil Tuhan dengan sebutan yang berbeda. Kita menghadap Tuhan juga dengan cara yang berbeda, namun apakah itu menjadi sebuah alasan untuk memaksa seseorang menyembah Tuhan dengan cara yang sama dengan cara-cara yang kita yakini sebagai ‘paling benar’?

Beberapa orang di Negara ini hidup dengan ketakutan akan penghakiman dari masyarakat akan keyakinan ia akan Tuhan. Ketakutan untuk mengungkapkan apa yang sebenarnya ia yakini dan percayai sebagai yang paling benar. Ketakutan untuk berdebat (dan didebat) akan apa yang ia lakukan sebagai cara untuk menyembah Yang Maha Kuasa. Ketakutan itu tumbuh sebagai penolakan untuk berdiskusi secara terbuka akan makna toleransi beragama.

Inilah yang terjadi ketika Agama yang seyogyanya menjadi konsumsi pribadi dibawa ke ranah publik. Ketika kita bertanya akan suatu agama, pertanyaan tersebut akan dicap sebagai ajakan untuk berdebat dan menjatuhkan pihak yang bertanya. Ketika agama dibawa sebagai tameng politik untuk berkampanye setiap lima tahun sekali. Ketika simbol-simbol keagamaan mulai kehilangan kewibawaaanya dan kesakralannya karena digerus ulah oknum-oknum yang mengaku lebih suci dari yang lainnya.

Bagi saya, mustahil mengajak bicara seorang Bigot tentang agama. Setiap pertanyaan diubah menjadi pernyataan akan betapa tidak dibutuhkannya pertanyaan untuk bisa percaya. Padahal bukankah karena itu Tuhan memberikan manusia logika?

 

Seperti biasa, semua jawaban dari pertanyaan saya, terserah pada anda.

Iklan

Di Negeri Kami….

John E Exner, seorang psikolog termahsyur asal amerika serikat pernah menulis dalam tesisnya lima puluh tahun yang lalu; “ada berjuta-juta manusia di muka bumi ini dan ada berjuta-juta ekspresi yang berbeda terhadap satu hal di dunia ini”. Kalimat yang terkenal ini adalah kalimat yang mematahkan teori Roschach bahwa  ekspresi manusia yang unik itu dapat diprediksi secara kompleks dengan serangkaian tes.

Demikian pula dengan suatu kebijakan. Contohlah kebijakan-kebijakan ringan seperti larangan buang ludah sembarangan di kampus—entah kenapa pasti ada pro kontra yang muncul, dan pro kontra itu manusiawi selama setiap orang mampu menghargai pendapat orang lain.

Sayangnya tidak disini, tidak di negeri ini, atau bahkan di kampus kami, di civitas akademika kami. Entah mengapa dengan berkembangnya social media, katakanlah twitter dan facebook, semua orang merasa harus ‘pintar’ dan ‘kritis’ serta merasa dirinya yang paling benar dari semua yang benar.  Padahal sebenarnya esensi dari kebenaran adalah sesuatu yang relatif!

Sungguh memuakkan ketika kami yang turun ke jalan untuk menyampaikan aspirasi teman-teman sekalian dibilang tak beretika, tidak ilmiah, tidak cerdas. Sungguh memalukan ketika kodrat mahasiswa sebagai jantung perubahan dan generasi penerus negeri ini diinjak-injak dengan tuduhan opresif bahwa kami  dianggap melanggar norma dan etika…. Etika yang mana??

Sungguh lucu negeriku ini dikala mereka yang hanya bisa berkoar-koar di dunia maya, dan tidak menyingsingkan lengan menyongsong perubahan malah diberi jempol. Mereka yang hanya bercuap-cuap tanpa arti demi sebuah amplop berisi lembaran-lembaran uang dianggap lebih ilmiah dan intelek dari kami yang berusaha dengan lengan dan pikiran sendiri untuk berkontribusi demi masyarakat yang lebih baik dan demi masa depan Indonesia.

Sungguh lucu negeriku ini dikala kami dianggap tidak punya pekerjaan dan mahasiswa bermasa depan muram dikala kami berprestasi dengan IP tiga koma sekian dan nilai yang tidak seburuk yang mereka katakan. Oh, tentu berbeda, tuan-tuan dan nyonya sekalian, kami pergi kuliah dan berjanji pada ibu bapak kami, kami tak akan cuma membawa nilai IPK empat koma tapi kami membawa perubahan. Kami kuliah untuk masa depan bukan sekadar transkrip nilai tanpa arti dengan otak berisi angin. Negeri ini sudah memiliki cukup banyak orang tak berotak didalamnya, janganlah kami tambahi lagi.

antara kritis & sensasi (sebuah surat terbuka)

ada banyak hal yang menginspirasi saya untuk menulis entry ini. bukan karena saya sedang sensitif karena banyak orang yang mendadak ngetop karena menyanyikan lagu-lagu dengan lirik provokatif dan up to date, bukan pula karena dosen saya mendadak meracau meminta kami responsi diskusi tentang kasus penuntutan paus beberapa waktu yang lalu, tidak.

ini karena keprihatinan saya kepada sesama blogger, sesama blogger yang seharusnya membangun environment yang positif kepada satu sama lain. ah, sudahlah, saya punya dignity berlebih untuk tidak menyebut nama dan url yang bersangkutan. saya hanya ingin berbagi beban yang sedikit banyak bercokol di dasar hati ini *alah*

sekarang ini banyak orang yang mau membuat sensasi. mau jadi artis dengan menentang arus–atau menentang norma. mau jadi idola. mau sok-sok sarkastis seperti para blogger kondang, padahal aslinya blog adalah tempat racauan hati dikala galau. cuma ingin dikomentari, tapi kalau komentarnya ora kerso ning ati langsung berkilah dengan alasan “my blog, my rule!”

dunia bukan cuma milik anda lho. kalau ada yang mengata-ngatai anda di comment, ya sudah, namanya juga pendapat. dewasa sedikit lah. buat apa sih semua yang di dunia maya ini ditanggapi serius? oh iya saya lupa, kan banyak yang bernafsu jadi seleb dunia maya. banyak yang merasa keren setelah menekan tombol sign in dan kembali terlihat bodoh setelah mengklik sign out. ups, saya tak bermaksud menyindir satu entitas pun di muka bumi ini lho, saya hanya bermaksud menuangkan apa yang saya rasakan. mau jadi terkenal? buatlah sensasi! bisa berupa joget joget ala shinta jojo atau sok kritis ala abg twitter masa kini, anda bisa pilih! bisa juga dengan memamerkan deretan gigi rapih anda sambil menyanyikan nama anda dengan berbagai variasi… trust me, it works.

Lalu dari mana awalnya saya bisa kembali mengetikkan kata-kata penuh sarkasme ini? ini semua bermula disebuah sore di selasar kampus saya, kami bercerita tentang seorang blogger, yang tanpa bukti telah menuduh kami sebagai sebuah organisasi–menuduh kami ngehack blog yang bersangkutan. ya, benar saudara-saudara, ini adalah sebuah tuduhan serius yang bisa diperkarakan. hacking adalah sesuatu yang jelas melanggar hukum dan norma di indonesia ini, dan ybs tanpa bukti yang kongkrit menuduh kami sebagai satu organisasi!!!

sungguh saya malu.

anyway, definisi hacker itu adalah… “Peretas (Inggris: hacker) adalah orang yang mempelajari, menganalisa, dan selanjutnya bila menginginkan, bisa membuat, memodifikasi, atau bahkan mengeksploitasi sistem yang terdapat di sebuah perangkat seperti perangkat lunak komputer dan perangkat keras komputer seperti program komputer, administrasi dan hal-hal lainnya, terutama keamanan.” (sumber; disini)

lucunya setelah itu, blogger yang satu ini tidak mengalami perubahan barang setitik pun di blognya. lucunya lagi ia mengaku mengantongi nama, IP address & NIM mahasiswa tersebut. aduh mbaaak kalo begitu mah untuk apa menuduh kami sebagai satu organisasi penuh? tuduh lah langsung kepada yang bersangkutan. saya pribadi sih lucu ya, untuk seorang yang cukup kritis untuk menuduh orang-orang yang berdemo dan turun ke jalan sebagai orang-orang kurang kerjaan…

anda sangat luar biasa pintar!!!

ya, pintar mencari sensasi! pintar berkata-kata dengan sinisme tersirat yang anda katakan sebagai anti caci maki dan kekerasan. mbak, bedakan sinisme dan sarkasme ya, dan juga bedakan dengan fallacy. saya yakin anda punya mesin pencari google terbookmark di browser anda–siapa yang tidak?–dan juga saya yakin anda cukup hebat untuk bisa tracing siapa yang meretas blog anda…

karena blog gratis itu sifatnya domino mbak, meretas satu blog berarti meretas seluruh server dan jutaan blog dengan domain yang anda miliki… beda dengan blog blog dengan engine lain… kalau seandainya blog anda gabisa dibuka… (karena melihat situasi sekarang, kelihatannya cuma itu yang bisa dijadikan alasan anda MERASA blognya dihack)

yakin anda gak lupa log out di warnet?

karma is a bitch

menyesal?

balada sms spam

Jakarta – Beredar kabar bahwa sedikitnya ada 25 juta data pengguna telekomunikasi di Indonesia yang bocor. Kabar ini langsung jadi perhatian Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI). Anda kah salah satu korbannya?

Menurut Anggota BRTI Heru Sutadi, isu kebocoran data pengguna telekomunikasi ini mengemuka setelah adanya klaim dari penjual produk pengiriman SMS broadcast yang mengaku memiliki database 25 juta pengguna telepon aktif di Indonesia.

“Penyelidikan ini penting mengingat bahwa data pengguna adalah sesuatu yang bersifat rahasia dan dilindungi UU Telekomunikasi No. 36/1999. Sehingga, jika isu ini benar, maka jelas hal itu pelanggaran,” tegas Heru kepada detikINET, Senin (24/1/2010).

Penyelidikan ini juga terkait dengan maraknya pengiriman SMS broadcast yang bersifat spam dari bank-bank yg menawarkan kartu kredit maupun kredit tanpa agunan (KTA).

“Dari laporan masyarakat, bank yang banyak mengirim SMS spam adalah Standard Charter Bank and ANZ. Selain perbankan, kini pola-pola seperti itu juga diikuti oleh penyelenggara telepon premium,” ungkap dia.

Sebelum menyelidiki lebih lanjut, BRTI juga sempat berdiskusi dengan Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI). “Konsumen banyak yang protes karena kata-kata yang digunakan dalam berpromosi tersebut sangat vulgar,” tandas Heru.

Saat ini tercatat ada 180 juta lebih pelanggan telekomunikasi di Indonesia. Jika isu kebocoran data benar adanya, BRTI khawatir, bisa saja seluruh data pelanggan yang ada akan jadi korban berikutnya.
(sumber)

berita ini cukup membuat saya mengelus dada, setelah saban hari nomor hp saya kebanjiran sms spam kredit tanpa agunan, akhirnya saya *sok* tahu penyebabnya apa–rupa-rupanya memang ada kebocoran data.

serem juga sih membayangkan kalo ada orang-orang yang tidak jelas dari mana asalnya yang memiliki data-data pribadi kita (yang entah didapat dari mana). belum lagi kuantitas dan kualitas sms tersebut yang bikin gemas. hampir tiap hari saya mendapatkan sms sms tersebut dan parahnya lagi mereka dari nomor yg berbeda-beda, jadinya juga bingung kalau mau menggunakan fasilitas blacklist dari handphone. belum lagi waktu pengiriman sms yang random, bisa tengah malam ketika sedang istirahat, atau di siang hari saat sedang beraktivitas, walaupun jelas untuk sms sms seperti ini tidak pernah ada waktu yang tepat.

masalah-masalah seperti ini selain harus ditangani oleh YLKI jelas harus ditangani oleh kominfo–yang tragisnya sedang sibuk mengurus konten porno di blackberry–benar-benar tragis. mungkin pak menteri yang terhormat belum dapat sms sms KTA tersebut jadinya dia belum merasa perlu untuk memblokir sms-sms yang bersangkutan–saya tidak mengimplikasikan kalau beliau sudah ‘memeriksa’ konten-konten porno di blackberry ya–namun apa daya, masyarakat juga sudah gerah dengan sms sms ini.

teman saya pernah bercerita katanya pengirim sms-sms ini menggunakan jasa yang disebut sebagai sms bomber . nah jasa ini mematok harga yang lumayan murah, dari 5000-10000 rupiah per 1000 sms. coba bayangkan apabila si penyedia layanan KTA ini menggunakan jasa bomber dengan menyediakan pulsa Rp. 50.000, mungkin dari 10.000 orang dia mematok 5-10 orang yang tertarik dengan iklan KTA ini, dan tentu saja orang tersebut kemungkinan besar orang yang benar-benar desperate butuh uang.

jadi sudah ada gambaran kenapa sebenarnya masalah ini JAUH lebih penting daripada masalah konten porno di blackberry yang tiba-tiba membawa isu nasionalisme?

seperti yang pernah saya implikasikan di posting-posting yang lalu, orang indonesia masih belum teredukasi secara digital. masih mudah untuk tertipu dengan janji janji manis di media, padahal memang itulah tujuan iklan, untuk memancing kita tertarik dengan premis premis yang ditawarkan. konsumen harus cerdas–dan kita sebagai pengguna media handphone, internet dll harus cerdas juga.

di Indonesia, mana ada sih operator yang mau mengakui kalau datanya bocor? wong mengakui kalau kapasitas data mereka rendah saja tidak mau (dan  malah memasang customer service sebagai lini depan defense perusahaan mereka sampai-sampai pelanggan kesal) apalagi mengakui data bocor? itu mah sama saja ‘menyuruh pelanggan beralih ke operator lain’. dari apa yang saya tangkap di televisi memang pihak operator-operator menolak tuduhan tersebut dan beranggapan bahwa pihak user/pengguna yang sembarangan menaruh nomor nya di jejaring sosial.

namun apa daya, nasi sudah menjadi bubur. mencerdaskan bangsa yang BELUM melek digital tidak semudah membalikkan telapak tangan dan sms spam keburu beredar. pertanyaannya adalah…. apakah menkominfo kita tetap akan berpangku tangan?

Permasalahannya Adalah Rakyat Makan Nasi Bukan Harga Diri

belakangan ini, pemerintah dan tokoh agama sedang sibuk saling sindir. seolah-olah rakyat tidak bosan mendengar pemerintah mengoceh tidak karuan di media, tapi realisasinya nol besar!

lagipula siapa yang tidak bosan dengan konflik-konflik internal pemerintahan? dari masalah gayus, masalah korupsi ini itu, bailout century–yang kasusnya lenyap ditelan pemberitaan ariel peterporn, kasus blackberry yang disangkut pautkan dengan rasa nasionalisme dan masih banyak lagi. muakkah anda? saya sih sudah muak semuaknya, ya, hanya ada secuplik berita bagus yang disiarkan di media kita dan sejuta kabar kabur soal politik pemerintahan di negara ini, dari konflik tidak penting karena orang-orang di pemerintahan lebih sibuk mengurus perut masing-masing, sampai orang-orang sok suci dan inkompeten mengisi dialog-dialog tanpa arah di berita pagi. semuanya sok asik mempertahankan argumen masing-masing hingga melupakan satu hal yang paling fundamental: SUARA RAKYAT.

ya, siapa sih sekarang yang ada di pihak rakyat? wong pemimpin kita lebih sibuk mempertahankan citra daripada menyediakan penghidupan yang lebih layak bagi rakyat indonesia. wong pemerintah lebih sibuk nampang dengan kece di televisi daripada memikirkan bantuan untuk bencana mentawai dan merapi. seolah-olah sekian juta rakyat indonesia ini sudah hidup makmur sejahtera! sungguh mengagumkan!

lalu apakah anda-anda yang duduk di pemerintahan sana pernah berpikir, citra itu dibentuk dari tingkah laku dan perbuatan, bukan dari omong kosong yang anda keluarkan di televisi, bukan dari mobil anda yang mengkilap, juga bukan dari spanduk spanduk dan baliho yang anda pasang di pinggir jalan! bukan! itu semua dari bagaimana anda menunjukkan nasionalisme anda dengan perbuatan dan tindakan nyata! bukan dengan berkoar-koar kalau anda peduli dengan keadaan bangsa, tapi ketika ada suatu musibah yang melanda negara ini, anda yang paling pertama kabur ke luar negeri.

permasalahannya rakyat tidak makan harga diri dan citra anda, bung! rakyat makan nasi! rakyat butuh penghidupan yang layak! bukan butuh pemimpin yang sibuk sendiri saling sindir & mengkhawatirkan pencitraan diri nya sendiri! rakyat butuh pemimpin yang mengasihi dan peduli, bukan pemimpin yang sibuk memikirkan strategi politik untuk memenangkan ‘hati rakyat’ atau yang sibuk sok berpropaganda dengan memasang baliho segede gaban dipinggir jalan dengan mengatasnamakan ‘murni suara rakyat!’ , rakyat yang mana? yang sudah hidup layak dikursi parlemen atau yang terbuang di jalan dan tidak bisa makan?

atau anda punya definisi lain soal bagaimana rakyat bisa makan harga diri pemimpinnya? kami lapar bung; kami lapar.

renungan saya tiga minggu ini

ya, tiga minggu yang cukup berkesan dalam hidup saya. tiga minggu merenung–menggalau–menjomblo–menyuramkan diri–memenuhi otak dengan pemikiran-pemikiran yang kian meruncing pada self-development diri saya. merenung, menggali apa yang saya punya dalam diri saya dan mengetahui letak kekurangan saya bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan. berkali-kali saya menangis, tertawa, marah, tapi seperti kata salah satu penulis favorit saya; Anais Nin… “I Postpone Death by living, error, risking, suffering, etc etc” saya lupa. Intinya bagi saya…banyak hal yang saya pikirkan ketika saya mencoba menjauhi dunia pergaulan untuk sementara waktu–ya, seperti kata Ayah saya, manusia itu sebenarnya seperti Mesin–atau, mesin yang mirip manusia? entahlah saya tak peduli–intinya, manusia itu butuh waktu untuk istirahat sejenak, untuk di tune up sebelum kembali bekerja dan inilah yang saya lakukan.

saya teringat siang itu, saya terduduk di starbucks sebuah mall di kota jogjakarta. ya, saya yakin anda penduduk kota jogja pasti tahu mall apa karena starbucks di Jogja hanya ada satu. intinya saya duduk dan memandangi timeline twitter saya tiga minggu kebelakang, mengenang masa-masa galau saya selama masa ‘pembuktian diri’ bahwa saya pun bisa ‘diam’ dalam waktu lama.
saya teringat cerita seorang teman tentang clubbing–ya, sebagai mahasiswa baru di Jogja wajarlah bagi mereka untuk menjajal setiap hiburan malam di kota jogja–menikmati bebasnya jauh dari kekangan keluarga atau apapun itu, menikmati bahagianya hidup tanpa jam malam atau apapun itu. saya teringat masa-masa betapa bandelnya saya ketika masih di Jakarta dulu, teringat pemikiran pertama saya… “what’s so special about Jogja’s night life?” bagi saya… tidak terimakasih. bulan-bulan pertama disini hafal jalanpun belum masa sudah mau sok-sokan clubbing? nggak dulu deh. no offense.
clubbing, dance liar di dance floor, minum–ya minum, minum liquor tentu saja. saya mulai berpikir…”what’s so special about getting drunk?” kamu minum, rasanya…hangat, sedikit pahit, whatever that is, minum, mabuk, muntah, wasted, hangover dan kelihatan tolol. what’s so cool and glamorous about that? dimana enaknya? dimana kerennya?
atau orang-orang yang merokok hanya untuk terlihat keren–ya, merokok tidak dihisap, hanya diasapin, hanya gaya. apa yang kamu dapat? apa yang keren dari pura-pura merokok? kenapa sih tidak bisa bangga dengan gaya hidup yang sehat dan bebas asap? banyak lho perokok yang ingin berhenti! plus buang-buang uang hanya untuk mengasapi rokok tersebut kan?
kemudian, kenapa orang harus menutupi rasa sakitnya dengan amarah? rasa sakit itu lumrah, normal, karena rasa itu yang membuat kita  menjadi manusia yang utuh! ketika kita melakukan sesuatu kita harus berani merasa sakit suatu saat nanti kalau kita gagal. kenapa kita harus malu dengan kegagalan? kenapa kita hanya bangga dengan keberhasilan walaupun itu dicapai dengan cara yang kurang jujur dan beradab? apakah sekarang kita sudah berubah menjadi makhluk yang perfeksionis?
lalu kenapa kita harus takut dengan kematian? apakah selama ini kita hanya beribadah karena surga dan neraka? apakah selama ini kita berdoa hanya melakukan gerakan-gerakan kosong tanpa makna?

ya, saya berpikir tentang semua itu dan tak satupun yang terjawab.
dan semoga hidup masih cukup panjang untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan aneh itu